| (Dibacakan oleh Taufiq Ismail pada: Acara Deklarasi Gerakan Nasional Pemberantasan Korupsi, Sumatera Barat, di Asrama Haji, Tabing, Padang, tgl. 15 Ramadhan 1424 H/10 Nopember 2003 M) I. Di awal abad 21, pada suatu Subuh pagi aku berjalan kaki di Bukittinggi, Hampir tak ada kabut tercantum di leher Singgalang dan Merapi, yang belum dilangkahi matahari, Lalu lintas kota kecil ini dapat dikatakan masih begitu sunyi, Menurun aku di Janjang Ampek Puluah, melangkah ke Aue Tajungkang, berhenti aku di depan rumah kelahiran Bung Hatta, Di rumah beratap seng nomor 37 itulah, di awal abad 20, lahir seorang bayi laki-laki yang kelak akan menuliskan alphabet cita-cita bangsa di langit pemikirannya dan merancang peta Negara di atas prahara sejarah manusianya, Dia tak suka berhutang. Sahabat karibnya, Bung Karno, kepada gergasi-gergasi dunia itu bahkan berteriak, "Masuklah kalian ke neraka dengan uang yang kalian samarkan dengan nama bantuan, yang pada hakekatnya hutang itu". |
Bila Bibir tak mampu mengungkapkan .... Bila Rasa tak bisa dipendam ..... Dan Gejolak Jiwa meronta-ronta .... Katakanlah lewat bait-bait PUISI
Tampilkan postingan dengan label PUISI TAUFIK ISMAIL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUISI TAUFIK ISMAIL. Tampilkan semua postingan
Senin, 07 Maret 2011
Rindu Pada Stelan Jas Putih dan Pantalon Putih Bung Hatta
BAGAIMANA KALAU
Bagaimana kalau dulu bukan khuldi yang dimakan Adam,
tapi buah alpukat,
Bagaimana kalau bumi bukan bulat tapi segi empat,
Bagaimana kalau lagu Indonesia Raya kita rubah,
dan kepada Koes Plus kita beri mandat,
tapi buah alpukat,
Bagaimana kalau bumi bukan bulat tapi segi empat,
Bagaimana kalau lagu Indonesia Raya kita rubah,
dan kepada Koes Plus kita beri mandat,
Langganan:
Postingan (Atom)